MENGAMPUNI DAN MELUPAKAN
February 16th, 2011 | Author: fatchur
Share
Seorang guru baru saja melerai dua orang muridnya yang berkelahi. Ia meminta keduanya saling bermaafan, tapi tidak berhasil dan ia tidak memaksakannya. Di dalam kelas, guru berkata kepada murid-muridnya, “Ada berapa orang yang kalian benci saat ini ?” Para murid memiliki jawaban yang beragam. Ada yang menjawab 4, 5 sampai 13. Lalu, guru melanjutkan, “Besok pagi, bawalah kentang segar sejumlah orang yang kau benci.”
Memaafkan bukanlah hal yang mudah. Namun, Allah mengajarkan kepada kita untuk menjadi umat yang pemaaf. Hidup justru akan menjadi jauh lebih sulit ketika tidak mampu memaafkan orang lain. Perasaan dendam dan amarah itu akan membebani dan membayangi kita, kemana pun kita pergi.
Mari kita lihat kelanjutan ilustrasi tersebut. Keesokan harinya, para murid membawa kentang sesuai jumlah yang diminta. Setelah memastikan setiap murid membawa kentang mereka, guru tersebut berkata, “Masukkan kentang-kentang itu ke dalam tas sekolah kalian, dan jangan kalian keluarkan selama beberapa hari”
Setelah beberapa hari, para murid mulai mengeluhkan beratnya membawa kentang setiap hari. Belum lagi, bau busuknya sangat menusuk hidung. Mendengar keluhan muridnya, guru berkata, “Keluarkan kentang itu sebelum baunya menjadi makin parah”
Para murid mulai mengeluarkan kentang itu dan membersihkan tas masing-masing. “Lebih ringan dan mudah membawa tas kalian tanpa kentang itu?” tanya guru. “Jadi, kenapa harus menyimpan kesalahan orang lain lebih lama? Lebih mudah memaafkan mereka saja, dan bau busuknya tidak menguar kemana-mana.” tambahnya lagi.
Ini mengajarkan agar para orang percaya mampu hidup dalam kasih, termasuk mau mengampuni sesamanya. Mengampuni dan bahkan melupakannya. Kita bisa saja melupakan fakta bahwa membawa kentang ke mana pun kita pergi, tapi bau akan tetap tercium. Namun, bila kita mengampuni, kita tidak hanya terhindar dari risiko berbau busuk, melainkan juga mampu melangkah dengan lebih ringan. Tantangan kerja hari ini pasti lebih mudah dihadapi jika kita bersedia mengampuni setiap pribadi.
Betulkah demikian ?; andalah para Alumni MDP dan jajaran SMAK MDP yang harus membuktikan, bahwa memaafkan itu harus mudah dan menjadi kebutuhan hidup kita (Andre Wahjudibroto)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar